02 Mei 2008

Sang Pemimpi

Buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi

Sang Pemimpi mengambil waktu sebagian besar pada masa Ikal bersekolah di SMA. SMA Negeri satu2nya di Belitong, terletak di sebuah kota pelabuhan bernama Magai, 30 kilometer dari kampung Ikal. Mau tak mau Ikal harus merantau ke Magai. Bersama saudara sepupu jauhnya yang seumuran, Arai, dan seorang teman lain yang senasib bernama Jimbron, mereka bersekolah di tempat yang sama dan tinggal bersama di sebuah los kontrakan. Untuk bisa tetap makan, mereka harus bekerja serabutan sepulang sekolah. Pekerjaan rutin yang sering mereka lakukan setiap hari adalah menjadi 'kuli ngambat'. Dengan modal sebilah bambu, dimulai pada pukul dua hingga pukul lima pagi, mereka mengangkut ikan dari perahu2 para nelayan ke pasar ikan. Setelah itu mereka harus buru2 pergi ke sekolah dengan tubuh yang masih berbau ikan pari.

Arai adalah anak yang cerdas, kreatif dan kadang liar, penuh dengan ide-ide nakal layaknya remaja. Jimbron meskipun gagap dan tidak terlalu cerdas, tetapi ia adalah anak yang ulet dan setia kawan. Bertiga, mereka adalah para pemimpi. Karena masih punya mimpi lah mereka masih tetap bersemangat menjalani hidupnya yang berat. Baik itu mimpi tentang pencapaian masa depan, ataupun mimpi tentang lawan jenis. Selama masih bisa bermimpi, selama itulah masih ada harapan yang perlu diperjuangkan.

kebandelan & keisengan si ikal
Cerita tentang kebandelan dan keisengan mereka dituturkan dengan cukup kocak. Dijamin pembaca akan tersenyum-senyum kecil dan kemudian tertawa lepas pada bab-bab tertentu. Pembaca dibawa terpingkal-pingkal sendirian pada bagian ketika Mei mei berteriak "Dlakulaaaaaaa!!", atau ketika mereka bertiga dihukum menjadi tontonan di lapangan sekolah oleh Pak Mustar (ini salah satu bab paling gokil). Sementara kisah yang mengharukan dituturkan pula dengan cara yang sangat menyentuh. Kisah masa kecil Arai dan Jimbron. Kisah tentang baju safari ayah Ikal.

Andrea Hirata berhasil membuat pembaca larut dengan tokoh2 yang ada di buku ini. Pembaca akan melebur dalam emosi setiap tokoh. Ikut tertawa saat mereka bertingkah konyol, ikut berempati dengan kegetiran hidup mereka, dan berkaca-kaca dalam kejadian2 yang mengharukan. Tulisan Andrea bisa kocak sekonyol-konyolnya, bisa menyentuh mengharukan, bisa ilmiah hingga mendetil, bisa juga indah dan romantis.

Sebagaimana Laskar Pelangi, buku ini juga ditulis dalam bentuk memoar. Potongan2 kisah keseharian Ikal, Arai, dan Jimbron dituturkan dalam bab-bab yang tidak terlalu panjang. Siapa itu Arai, dan siapa itu Jimbron diungkap pelan-pelan lewat bab demi bab. Arai dan Jimbron sama sekali belum dimunculkan dalam buku pertama Laskar Pelangi. Mereka adalah tokoh baru dengan kisah baru. Dan sepuluh orang anggota Laskar Pelangi yang menjadi tokoh di buku pertama, sama sekali tidak disentuh lagi di buku ini kecuali dalam satu-dua kalimat. Sebaliknya Arai dan Jimbron juga tidak pernah disebut dalam buku pertama, padahal Ikal juga telah mengenal mereka sejak SD, masa2 ia berteman akrab dengan Laskar Pelangi.

Mari Bermimpi
Sesuai dengan judulnya, buku ini berkisah tentang sekelompok anak-anak yang berani bermimpi dan bertekad menggapainya. Kehidupan yang berat dan sangat membatasi langkah mereka tidak membuat mereka kehilangan semangat. Mimpi itulah yang selalu meniupkan bara optimisme untuk terus berharap dan berbuat. Ada satu waktu, ketika Ikal kehilangan harapan. Saat ia menjadi pragmatis bahwa masa depannya hanyalah akan seperti orang2 dewasa yang ada disekelilingnya. Saat itulah ia kehilangan mimpinya dan tidak lagi bersemangat melakukan apapun. Tapi untunglah teman2nya adalah pemimpi yang konsisten, sehingga Ikal pun bisa melambungkan mimpinya kembali. "Kita tak'kan pernah mendahului nasib!" Pesan moral yang sangat kuat itulah yang aku tangkap dalam buku ini (bukan, ini bukan tentang pesan moral bernomor itu. Jangan berhenti bermimpi, dan terus berusahalah menggapainya. Agar hidup tetap terasa berharga untuk diperjuangkan.

2 komentar:

  1. baca buku ini bikin hatiku cekat-cekit... ikut ngerasaan perih dan pedihnya kehedupan ikal, arai dan jimbron. Buku ini juga bikin berurai air mata ya? Subhanallah ...

    BalasHapus
  2. setuju mba kepik. Tapi selain membuat kita berurai airmata, sang pemimpi juga dapat memotivasi kita untuk bisa bangkit memperbaiki hidup dan menumbuhkan semangat untuk meraih cita-cita.

    BalasHapus