
Novel ini melanjutkan kisah perjalanan hidup Ikal yang terputus di Sang Pemimpi. Ending Sang Pemimpi adalah saat Ikal dan Arai berhasil lolos dari semua test penyaringan untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan S2 di Eropa. Tapi sebelum melanjutkan kisah itu, Andrea memilih sedikit bercerita kembali tentang masa kecilnya yang belum terungkap di dua buku sebelumnya.
Sayangnya buku ini dibuka dengan bab yang terlalu melankolis, tentang sosok Weh yang penuh kemalangan. Pembaca bisa jadi merasa ekspektasinya untuk mendapat kisah lanjutan yang seru langsung pupus begitu membaca bab pertama, selain juga akan kehilangan benang merah karena Weh adalah tokoh yang sama sekali asing. Untunglah kemudian disambung dengan cerita seru dan kocak tentang perubahan nama Ikal yang berkali-kali. Rentetan cerita dalam buku ini kadang terasa melompat-lompat.
Barulah kemudian Andrea berkisah bagaimana ia dan Arai berpamitan pada bapaknya untuk meraih mimpinya di negri orang. Sempat kebingungan dan terlunta-lunta di tanah yang sama sekali tidak mereka kenal. Hingga akhirnya mampu beradaptasi dan menjalani tugas-tugas perkuliahannya dengan tekun. Kehidupan mereka dalam tumpukan tugas kuliah tidak terlalu banyak dijabarkan. Mungkin karena memang tumpukan tugas itu tidak menarik dikisahkan. Tapi Andrea yang suka mengamati karakter orang sempat bercerita lumayan panjang tentang karakter satu per satu dari teman kuliahnya berdasarkan latar belakang negaranya.
Namun bagian yang paling panjang diceritakan adalah, pertaruhan Ikal dengan teman2 kuliahnya untuk melakukan perjalanan keliling Eropa sebagai backpackers sembari menjadi pengamen jalanan. Biaya perjalanan hanya didapatkan dengan menjadi pengamen jalanan. Pada tanggal yang ditentukan mereka harus berkumpul kembali di satu tempat untuk menentukan siapa yang paling banyak jumlah negara yang dikunjunginya. Selama perjalanan masing2 harus mengabarkan posisi dan memuat foto mereka via internet. Perjalanan nekat itu pun memberi berbagai pengalaman untuk mereka berdua. Dari yang menyenangkan, hingga yang menyengsarakan. Setelah salah satu mimpi terbesar mereka yaitu kuliah di Sorbonne University terwujud, ternyata masih ada lagi mimpi2 kecil mereka yang bisa teraih melalui perjalanan backpacker nekat tersebut.
Garis besar cerita buku ketiga ini masih sejalur dengan buku kedua, yaitu tentang keberanian dan ketetapan hati untuk mewujudkan mimpi. Meski tidak semua harapan Ikal tercapai, tapi keteguhannya untuk tetap berjuang sungguh patut diacungin jempol. Memang beberapa kisah pencapaian mimpinya kadang terasa rada ajaib atau terlalu kebetulan, tapi yah masih mungkin terjadi dan tetap enak diikuti. Andrea Hirata masih tetap dengan gaya tulisannya yang kaya dan berwarna-warni. Kadang dia bisa sangat melankolis, di lain tempat jadi romantis, ada juga yang diwarnai kritik sosial, dan tentu saja yang paling banyak memikat dan mengikat pembaca untuk terus membaca adalah bagian cerita yang ditulis dengan kocak dan nakal.
Mungkin buku ketiga ini tidak serenyah buku kedua yang bisa membawa emosi pembaca naik turun dari sedih hingga tertawa keras sepanjang membacanya. Buku ketiga ini lebih banyak bagian cerita yang diceritakan dengan gaya serius. Bisa dimaklumi juga karena yang dituturkan bukan lagi potongan kisah masa remaja yang penuh keisengan, tapi kisah dari masa-masa kuliah S2 yang tentunya harus dihadapi dengan lebih banyak keseriusan. Dalam buku ini Andrea Hirata dengan bahasanya yang kadang indah, kadang menyentuh, kadang kocak, mengajak kita untuk berani bermimpi dan mengulurkan tangan kita setinggi-tingginya untuk bisa menyentuh mimpi-mimpi itu.
tapi..........
ada sebuah kalimat yang indah banget, "karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenernya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan yang harus kita hadapi, sepahit apapun". Disitulah akhirnya ujung dari pencarian.
Mungkin buku ketiga ini tidak serenyah buku kedua yang bisa membawa emosi pembaca naik turun dari sedih hingga tertawa keras sepanjang membacanya. Buku ketiga ini lebih banyak bagian cerita yang diceritakan dengan gaya serius. Bisa dimaklumi juga karena yang dituturkan bukan lagi potongan kisah masa remaja yang penuh keisengan, tapi kisah dari masa-masa kuliah S2 yang tentunya harus dihadapi dengan lebih banyak keseriusan. Dalam buku ini Andrea Hirata dengan bahasanya yang kadang indah, kadang menyentuh, kadang kocak, mengajak kita untuk berani bermimpi dan mengulurkan tangan kita setinggi-tingginya untuk bisa menyentuh mimpi-mimpi itu.
tapi..........
ada sebuah kalimat yang indah banget, "karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenernya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan yang harus kita hadapi, sepahit apapun". Disitulah akhirnya ujung dari pencarian.
setuju bahwa buku ini sepertinya tidak semenarik buku pertama ato kedua. Aku pikir, mungkin karena dag-dig-dugnya nggak seperti saat kita baca buku 1 ato dua. Tapi teteup, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman si ikal. Diantaranya: gimana iman bisa 'menjaga' diri kita, di tengah lingkungan yang kurang kondusif sekalipun! Yang aku angkat topi buat ikal adalah, dia tak pernah berhenti bersyukur atas apa yang Allah berikan padanya ... itu yang kudu kita contoh kali ya :)
BalasHapus