Penulis : Langit Kresna HariyadiPenerbit : Tiga Serangkai
Halaman : 508
Buku kedua Gajah Mada karya LKH ini diawali dengan kejadian hari saat Jayanegara dibunuh. Jayanegara adalah satu-satunya anak laki-laki Raden Wijaya dari istri kelimanya, yaitu Dara Petak. Mangkatnya Jayanegara membuat genting keadaan istana, terutama di pihak para ratu, yaitu Tribhuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Dyah Dewi Gayatri dan Dara Petak karena tidak ada lagi penerus laki-laki. Keadaan ini juga cukup membuat kalang kabut Gajah Mada dan bhayangkaranya.
Ternyata di hari-hari mangkatnya sang raja, di saat rembukan para ratu hendak memutuskan tahta istana jatuh kepada Sri Gitarja atau Dyah Wiyat, putri Raden Wijaya dari istri Dyah Dewi Gayatri terjadi hal-hal yang semakin genting, seperti pembunuhan dan keributan lain yang disimpulkan oleh Gajah Mada sebagai sebuah makar yang berakar dari sebuah konspirasi jangka panjang. Gajah Mada menemukan bahwa konspirasi tersebut masih terkait dengan pemberontakan Ra Kuti dan Ra Tanca dengan ditemukannya simbol ular membelit buah maja, pembunuhan dengan ular berbisa dan pembelotan-pembelotan beberapa anggota bhayangkara.
Kejadian-kejadian penting terus berlangsung, pembunuhan, munculnya teka-teki, petunjuk-petunjuk, dan kejadian-kejadian lainnya membuat pusing Gajah Mada. Namun Gajah Mada dan kesatuan pasukan khusus bhayangkaranya perlahan-lahan memecahkan semua konspirasi perebutan tahta Majapahit tersebut, termasuk kemungkinan keterlibatan Ra Tanca meskipun ia sudah mati bersamaan dengan mangkatnya Jayanegara. Sesuai catatan sejarah sejak kematian Jayanegara dibutuhkan waktu selama setahun untuk menunjuk siapa yang berhak menjadi ratu, dan atas saran Gajah Mada akhirnya Ratu Gayatri menunjuk kedua putrinya untuk memimpin negeri Majapahit.
Kisah yang ditulis oleh LKH menceritakan proses investigasi dan penyelesaian konspirasi yang terjadi antara ambisi Cakradara dan Kudamerta hingga lebih tuntas, termasuk keterlibatan Ra Tanca melalui petunjuk-petunjuk yang mengarah bahwa semua yang terjadi berkaitan dengan keahlian Ra Tanca. Apa saja teka-teki yang diselesaikan Gajah Mada? Tentunya banyak dan saling berkaitan, dan dalam buku tersebut LKH mengisahkan keahlian Gajah Mada sang Patih Daha dalam rentang waktu yang pendek (dalam beberapa hari sejak kematian Jayanegara) meskipun ditulis setebal 500 halaman lebih.
Benarkah aksi Ra Tanca (dan pendukungnya) hanya sampai Jayanegara terbunuh sedangkan Ra Tanca hanya meninggalkan seorang istri dan tidak punya pasukan? Siapakah yang meneruskan ambisi pemberontakan dengan simbol ular melilit buah maja tersebut?
Lebih baik baca saja bukunya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar