
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai
Jenis: Fiksi
Tebal: 582 halaman
Gajah Mada dalam benak saya adalah tokoh sentral dalam pendirian Majapahit. Satu sosok yang dengan kegigihannya berusaha menjadikan Majapahit sebuah Negara besar & kuat. Siapa yang tidak kenal dengan Sumpah Palapa. Saat kita masih berseragam merah putih kita sudah dijejali oleh guru cerita mengenai hal ini (sebuah Negara yang diawali dari buah maja yang pahit yang akhirnya berkembang menjadi Nusantara)
Ketika melihat buku ini, saya sempat ragu membelinya. Apakah buku ini akan seseru Senopati Pamungkas dan Api di Bukit Menoreh. Tapi akhirnya…. Lembar demi lembar saya habiskan untuk menikmati apa yang tertuang di dalamnya. Satu kata yang bisa saya ungkapkan: Menarik!
Dalam buku Gajah Pertama ini, LKH menceritakan kejadian ketika raja Majapahit Jayanegara dulu Kalagemet) dibunuh dengan racun oleh Ra Tanca. Ra Tanca merupakan tabib mumpuni saat itu, hingga saat pemberontakan Ra Kuti berhasil ditumpas Gajah Mada hanya Ra Tanca yang menyerahkan diri, yang akhirnya setelah 9 tahun berkesempatan meneruskan pembalasan atas kematian kelompoknya langsung kepada Jayanegara.
Dikisahkan pada jaman ini Gajah Mada masih seorang bekel, sebuah pangkat ketentaraan di bawah senopati. Dengan pangkat tersebut Gajahmada menduduki jabatan pimpinan bayangkara, sebuah pasukan khusus yang melindungi istana, raja dan keluarganya.
Seluk beluk kelicikan Ra Kuti di novel ini mengingatkan saya akan tokoh Ramapati dan kelicikan Rawedeng dalam memberontak, bermuka dua beserta segala kelicikannya. Dengan menghasut beberapa temenggung dan beberapa panglima kesatrian Ra Kuti menggulingkan Jayanegara, namun atas kecerdikan Gajah Mada dan bantuan Patih Arya Tadah sang raja dan keluarganya berhasil diselamatkan oleh Gajah Mada dan bayangkaranya, dan terpaksa diungsikan dari istana, istana Bale Manguntur di Mojokerto.
Isi novel kemudian mengisahkan kepiawaian Gajah Mada dalam memimpin bayangkaranya, meloloskan dan mengungsikan Prabu Jayanegara, mendeskripsikan hancurnya tatanan pemerintahan dan masyarakat, mengisahkan dendam kebencian Ra Kuti kepada Gajah Mada dan Jayanegera, serta intrik bayangkara disusupi pengkhianatan yang cukup merepotkan Gajah Mada.
Penulis dengan lancar menceritakan alur kejadian, penuh dengan kosakata kemiliteran pada waktu itu, seperti deskripsi istana, struktur kemiliteran, persenjataan dan taktik perang seperti brubuh, cakrabyuha, diradameta, supit urang dan banyak lagi. Bagaimana akhir cerita novel ini? Berhasilkah Gajah Mada dan bayangkaranya mengembalikan kekuasaan Majapahit kepada Jayanegara?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar